Salah satu penerima Beasiswa DAAD-ACEH Scholarship of Excellence, Teuku Reza Auliandra Isma, berbagi cerita mengenai suasana Ramadan di Jerman di tengah pandemi COVID-19 yang ada. Yuk simak ceritanya.

Puasa kali ini adalah kedua kalinya saya menjalankan ibadah puasa di Rostock semenjak saya memulai studi doktoral saya pada tahun 2018. Pada tahun ini puasa jatuh pada musim semi sehingga lebih ringan dibandingkan apabila harus menjalankannya pada musim panas. Durasi puasa pada kali ini adalah sekitar 18 jam dimulai dari sekitar jam 3 pagi hingga sekitar jam 9 malam.

Sejalan dengan himbauan dari pemerintah Jerman, segala aktivitas non-esensial di Rostock sudah berhenti semenjak awal April termasuk diantaranya aktivitas ibadah baik di gereja maupun di masjid. Hal itu terus berlanjut bahkan hingga memasuki bulan ramadhan pada akhir April. Oleh karenanya, puasa di Rostock kali ini terasa sangat berbeda dibandingkan tahun lalu.

Pada puasa kali ini, saya tidak dapat mengikuti buka puasa bersama di masjid juga shalat tarawih setelahnya. Meskipun demikian, saya dan teman-teman PPI Rostock tetap berusaha meramaikan suasana Ramadhan dengan cara lain. Salah satunya dengan melaksanakan pengajian online sekaligus buka puasa bersama. Ini biasanya kami laksanakan sekitar 2-3 kali seminggu. Jumlah peserta yang ikut lumayan banyak mengingat jumlah mahasiswa di Rostock hanyalah belasan. Acaranya juga tidak hanya diikuti rekan yang muslim saja.

Berdasarkan perkembangan terakhir, pemerintah setempat sudah mengizinkan aktivitas ibadah meskipun masih terbatas. Saat ini, masjid sudah boleh digunakan untuk shalat zuhur, asar dan subuh berjamaah sedangkan shalat dan aktivitas lainnya seperti shalat jumat, shalat tarawih ataupun buka puasa masih belum boleh dilaksanakan. Semoga ada perkembangan lebih baik lagi kedepannya sehingga kami bisa melaksanakan shalat id pada Hari Raya Idul Fitri.