Aksi Pak Andi ketika presentasi di Final Falling Walls Lab 2018 di Berlin

Frankfurt masih agak gelap ketika pesawat Lufthansa mendarat di Bandara FRA. Perjalanan melintasi malam dari Bangkok terasa cepat karena saya habiskan dengan terlelap. Di pagi yang gelap ini, bandara nampak menggigil di luar dinding kaca. Kabut agak tebal dan udara seperti membeku. Sepi, senyap dan dingin. Suasana itu nampak jelas dari tempat duduk yang saya kuasa sejak beberapa menit lalu. Cara terbaik menghabiskan waktu selama transit adalah membaca dan menulis sambil memastikan baterai laptop dan HP terisi kembali.

Di sini, di salah satu pojok Bandara FRA, saya terduduk tenang setengah gamang di dekat colokan listrik yang bekerja dengan baik. Satu dua pesan masuk ke HP lewat Whatsapp. Satu dua komentar di di Instagram juga muncul menghangatkan suasana. Jauh dari rumah, rindu akan keluarga mudah muncul. Segera saya telepon Ibu di kampung di Tabanan, Bali. Dalam sekejap, terdengarlah suara super excited dari seberang sana. Ibu saya begitu gembira mendapat kabar dari saya dan kami bercengkerama beberapa saat. Seperti biasa, banyak pertanyaan yang terlontar dan dengan sabar saya jawab. Mungkin begitu juga saya dulu di masa kecil: banyak tanya dan mungkin juga banyak protes.

Sembari menunggu waktu naik pesawat ke Berlin dari Frankfurt, saya rapikan naskah presentasi saya. Dalam hitungan hari, saya akan tampil dalam lomba presentasi tiga menit: Falling Walls Lab di Berlin. Kini saatnya menyempurnakan naskah dan memastikannya bisa tersampaikan dengan presisi dalam waktu yang ditentukan. Kata demi kata saya cermati lagi, titik dan koma juga saya perhatikan. Kalimat-demi kalimat dipantau ulang dan paragraph demi paragraph dipastikan padu dan gayut satu sama lain. Di tengah kegaduhan bandara yang dilatari panggilan dan pengumuman silih berganti, saya tenggelam dari latihan, seakan tak peduli pada sekitar. Mungkin ada yang memperhatikan tapi bukankah itu tidak begitu penting karena pada dasarnya saya tidak mengganggu?

Dalam beberapa jam kemudian saya sudah mendapati diri ada di Bandara Tegel, Berlin. Pesawat mendarat dengan selamat dan kini perjuangan menju tempat tinggal di Berlin dimulai. Sejujurnya, saya belum sempat melakukan persiapan untuk memahami transportasi paling efektif ke Motel One Mitte, tempt tinggal saya. Harapannya, setibanya di bandara nanti saya akan mencari informasi. Sudah pernah ke Berlin lima tahun lalu sehingga saya tidak terlalu was-was.

Begitu melihat Whatsapp, ada satu pesan asing masuk. Ternyata di adalah Dr. Marco Stahlhut, dosen DAAD yang mengajar di Sastra Jerman Universitas Indonesia. Marco sedang ada di Berlin dan berbaik hati membantu soal informasi akomodasi. Marco adalah pihak penyelenggara Falling Walls Jakarta pada dua tahun belakangan. Untunglah ada beliau sehingga dengan mulus saya bisa melaju dengan kereta dan bus menuju motel. Semua lancar, kecuali satu hal. Saya merasa mengantuk dan lelah akibat jetlag. Maklum saja, beda waktu enam jam dan saat itu, di Indonesia sudah cukup larut dan kami di Berlin masih siang hari. Hari masih panjang.

Memasuki ruangan motel di lantai lima, saya disuguhi pemandangan musim gugur yang mempesona lewat jendela. Tak jauh dari motel, terlihat sebuah taman dengan pohon-pohon dengan dedaunan berwarna-warni siap gugur bersatu dengan kawan-kawannya yang telah terlebih dahulu menutupi rumput di bawahnya. Meski masih musim gugur, dingin sudah terasa menyengat. Anak khatulistiwa menjadikan dingin sebagai kelemahan utama. Begitulah saya. Meski begitu, tetap saja harus mandi karena sudah berpuluh jam tidak membersihkan badan.

Dua jam berikutnya saya sudah berada di Kedutaan Kanada Berlin untuk mengikuti rangkaian acara pertama. Sore itu, kami, semua peserta Falling Walls Lab dari seluruh dunia, diundang untuk bertemu dengan orang-orang Springer Nature. Mereka berbicara berbagai topik dan kami diberi kesempatan untuk hangout bersama mereka. Di situlah kami mendapatkan buku, beberapa dokumen lain dan kartu nama. Ya, semua peserta Falling Walls Lab mendapat kartu nama, lengkap dengan ide inovasi yang akan dipresentasikan beberapa hari lagi. Ide yang bagus untuk berjejaring.

Melihat seratusan orang dari 80 lebih negara, ada kecamuk berbagai rasa. Di satu sisi merasa bangga karena menjadi bagian dari kerumunan orang hebat itu, di sisi lain merasa terintimidasi karena semua orang kelihatan begitu hebat dan professional. Suasana demikian jika tidak dikelola dengan baik menimbulkan perasaan gentar dan bahkan kalah. Dalam kompetisi, situasi seperti itulah sesungguhnya yang menjadi momen kompetisi yang sebenarnya: berperang dengan diri sendiri. Saya berusaha untuk menenagkan diri, memberi kerangka logika pada setiap kejadian sore itu sehingga tidak terjebak pada kekalutan perasaan apalagi baper yang berkepanjangan.

Saya mulai mengenal peserta lain dari berbagai negara dan terutama dua orang kawan Indonesia yang ternyata menjadi utusan Jepang dan Jerman. Kami akrab dalam waktu cepat. Mungkin karena merasa senasib sepenanggungan. Sesama perantau di negeri orang, sesama anak bangsa yang memperjuangkan kehormatan diri dan negara.

Malam itu ditutup dengan makan malam di sebuah restoran bersejarah di Kota Berlin. Di tempat itu juga saya akhirnya bertemu Marco secara langsung. Beliau sangat baik, membantu banyak hal yang kami tidak tahu. Kami juga beruntung karena Fadli, peserta Indonesia yang mewakili Jerman, sudah cukup paham situasi sehingga bisa menjadi pemandu sementara. Kamipun menikmati hidangan dan percakapan yang hangat dengan berbagai peserta dari berbagai negara. Mereka orang-orang hebat dan baik. Saya sudah merasakan nuansa saling belajar sejak pertama kali bertemu dengan beberapa orang.

Waktu baru menunjukkan sekitar pukul delapan malam ketika kami memasuki motel. Sayang sekali, jetlag berkuasa begitu hebat sehingga beda waktu enam jam itu membuat saya tumbang seketika. Jam delapan malam di Berlin adalah jam dua pagi di Indonesia. Jam biologis saya belum sadar kalau sedang berada di belahan dunia lain yang memerlukan adaptasi.

Jam biologis lagi-lagi tidak bisa diubah seketika. Jam dua dini hari saya sudah terjaga dan tidak bisa tidur lagi. Tentu saja karena tubuh saya merasa itu sudah jam delapan pagi, ketika saatnya beraktivitas seperti biasa. Di kamar motel yang relatiif kecil itu, saya mulai mencari-cari alasan untuk beraktivitas. Sepagi itu, pesan Whatsapp sudah penuh karena kehidupan professional di Jogja sudah berjalan sejak beberapa saat sebelumnya. Ada banyak pesan yang harus dijawab tetapi saya putuskan untuk tidak merespon semuanya. Meski jauh, kantor selalu bergerak mengikuti kita ke manapun kita melangkah. Mungkin inilah makna revolusi industri jilid empat yang paling terasa bagi banyak orang.

Pagi itu saya habiskan untuk berlatih lagi. Betul, berlatih presentasi untuk memastikan semua berjalan sesuai rencana. Berlatih tak pernah salah, meskipun kadang kita tidak merasakan kemajuan yang signifikan. Kemajuan memang tidak selalu bisa dirasakan secara instan. Kemajuan kadang tumbuh dalam senyap menjadi fondasi yang kuat dan akan muncul faedahnya ketika saat yang tepat telah tiba. Maka prinsip saya, berlatihlah selalu selagi ada waktu.

Tanggal 7 November dibuka dengan berbagai presentasi dalam rangkaian Research in Germany. Kami disuguhi beberapa pembicara dari berbagai pihak di Jerman. Masing-masing mewakili institusinya yang terkait erat dengan pelaksanaan penelitian di Jerman. Ada yang presentasi tentang perkembangan penelitian dan kerja sama institusinya dengan institusi lain, ada juga yang menyampaikan kesempatan pendanaan penelitian. Pada dasarnya Jerman terlihat sangat serius untuk menarik minat penelitian dari berbagai pihak di dunia. acara itu menjadi semacam proses marketing penelitian mereka. Nampak jelas, ada keterpaduan dan kesatuan gerak langkah di pemerintah Jerman terkait pengembangan penelitian ini.

Saya menyimak berbagai kesempatan kolaborasi dan pendanaan penelitian yang tentunya sangat penting bagi peneliti seperti saya. Sebagai orang yang menangani kerja sama internasional, informasi semacam itu sangat menarik untuk diteruskan ke kolega kami di UGM dan Indonesia secara umum. Sesi itu menjadi bagitu menarik bagi saya karena interest pribadi dan professional. Para pembicara juga nampak menguasai dengan baik dan passionate dengan apa yang disampaikan dan dilakukannya. Selain soal informasi yang bermanfaat, sesi pagi itu juga menjadi penebar semangat bagi para peneliti seperti kami.

Selepas sesi informasi dan diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan tur berbagai tema. Saya memilih untuk tur ke Van Humbolt Universität zu Berlin, terutama ke Fakultas Geografi. Saya teratarik ke sana karena mereka memiliki laboratorium geomatika yang dekat dengan bidang keilmuan saya.

Benar saja, begitu memasuki Fakultas Geografi, saya sudah merasakan aroma yang akrab: aroma bumi dengan segala bentuk dan dimeensinya. Penjelasan diberikan oleh dua orang mahasiswa PhD yang nampaknya berusaha dan menyiapkan dengan sangat baik. Tidak saja mereka berbicara bidang ilmu mereka tetapi juga sejarah institusi tersebut dan kontek besar keilmuan dan keberadaan institusi tersebut di Jerman dan dunia. Keduanya nampak menguasai, bersemangat dan meyakinkan.

Kami diajak ke berbagai laboratorium, termasuk ke koleksi geologi yang sudah ratusan tahun umurnya. Kami juga sempat memegang sebuah meteorit yang konon ditemukan di Amerika Latin di tahun 1700an. Koleksi itu begitu berharga karena sudah dipelajari oleh berbagai generasi ilmuan kebumian, tidak saja di Jerman tetapi juga di belahan dunia yang lain. Nampak jelas betapa orang Jerman merawat koleksi ilmu pengetahuannya dengan sangat baik sehingga tidak saja benda fisik yang terjadi, nilai dan ilmu juga terawat baik. Demikianlah kita semestinya memperlakukan benda peninggalan bersejarah.

Malam harinya kami diundang untuk menghadiri acara penting di bidang ilmu pengetahuan yaitu pemberian penghargaan kepada insan penelitian. Malam itu kami menyaksikan Science Award, sebuah penghargaan bergengsi di Jerman. Acara itu berlangsung utamanya dalam Bahasa Jerman tetapi setiap peserta diberi alat penerjemah sehingga semua pihak bisa memahami. Meskipun menarik dan penting, sejujurnya saya tidak bisa berkonsentrasi dengan baik menyimak acara itu. Pertama karena jetlag masih menjangkiti saya dan kedua karena besoknya harus berkompetisi presentasi tiga menit. Inilah tujuan utama kami ada di sini sehingga nampaknya semua orang ingin segera kembali ke motel untuk bersiap-siap.

Tanggal 8 November 2018 adalah hari besar yang sudah saya tunggu-tunggu dengan harap-harap cemas. Tanpa bermaksud untuk pesimis, saya memang tidak menargetkan sebagai juara tetapi berniat sekuat tenaga untuk menampilkan yang terbaik, bahkan lebih baik dari penampilan saya di Jakarta. Pagi itu, saya merasa persiapan sudah paripurna dan hal terbaik sudah saya lakukan.

Saya awali tanggal 8 November 2018 dengan membuat sebuah video mohon doa dan terima kasih atas dukungan teman-teman selama ini. Video itu saya posting di Facebook dan di Instagram TV untuk disimak lebih banyak orang. Selama ini saya suka bercerita soal presentasi. Persiapan saya dalam mengikuti Falling Walls kali ini termasuk yang paling ‘heboh’ dan paling serius. Saya ingin berbagi semangat itu, apapun nanti hasilnya. Bahwa hal terbaik yang kita bisa lakukan adalah bersiap dengan baik lalu melakukan tugas dengan sepenuh hati. Hasilnya kita serahkan kepada pihak yang memiliki kuasa.

Acara Falling Walls Lab dibuka sekitar jam 9 pagi, bertempat di sebuah ruangan di gedung tak jauh dari Brandenburg, salah satu ikon Berlin yang sangat memikat. Meski di luar ruangan nampak suasana kota yang ramah dan indah, entah mengapa suasana di ruangan itu terasa hangat dan menegangkan. Meskipun MC tampil sangat memukau dengan improvisasi dan energi positifnya, wajah-wajah tegang di kursi perserta bisa diamati dengan mudah. Meskipun semua mengatakan bahwa ini bukan lomba tetapi kesempatan berjejaring, pada kenyataaannya semua orang nampak tegang. Setegang-tegangnya.

Tanpa berpanjang lebar lomba dimulai dan peserta pertama tampil menjadi pembuka misteri bagi banyak orang. Penampilannya sangat baik, nampak siap sesiap-siapnya. Tak lama kemudian peserta kedua tampil, juga dengan penampilan yang tidak kalah bagusnya. Semua orang memang memiliki gagasan brilian dan bersiap dengan sangat baik. Tak terasa, belasan dan puluhan peserta sudah tampil dan ruangan terasa kian hangat. Saya menyimak setiap penampilan dengan seksama, mencoba belajar dan semuanya dan terutama mengevaluasi penampilan mereka untuk saya adopsi dalam penampilan saya nanti.

Di tengah acara, MC secara kreatif mengambil alih untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk relaksasi. Suasana tegang memang terasa dan mencekam ruangan. Memang lebih banyak yang tegang dibandingkan yang santai. Mereka yang sudah tampil tentu saja jauh lebih santai dibandingkan ketika mereka yang belum tampil tapi tetap saja, suasana menegangkan begitu terasa. Sesi relaksasi yang disampaikan MC sangat membantu. Gadis ini melakukan tugasnya dengan sangat baik. Perlu ditiru jika menjadi MC.

Waktu istirahat tiba. Saatnya makan siang dan mengendorkan otot sejenak. Sementara itu, saya tidak bisa tenang karena saya akan presentasi di sesi dua dan menjadi presenter ketiga. Makan tidak nyaman, minum pun terasa hambar. Mengingat penampilan peserta lain begitu memukau, tiba-tiba beban terasa makin besar. Di titik itulah saya merasa perlu berimprovisasi. Saya ingin sedikit keluar dari pakem yang sudah saya tetapkan dalam latihan selama berbulan-bulan ini. Saya ingin mengubah intermezzo di bagian awal dengan bahan yang berbeda. Tadinya saya mau menyampaikan guyon seputar ikan di laut, tiba-tiba saja saya merasa guyon itu kurang kuat. Sebaiknya saya mengganti dengan guyon yang lebih meyakinkan dan saya nyaman menyampaikannya. Meski demikian, selalu ada risiko gagal. Saya pun khawatir.

Sembari makan siang dengan konsentrasi terpecah, saya coba menguatkan diri dengan pilihan intermezzo saya dan akhirnya saya bulatkan tekad untuk memiliki guyon soal nama saya yang merupakan simple past tense. Saya sebenarnya tidak begitu yakin guyon ini akan bekerja dengan baik tetapi saya telah menguasainya dengan sangat baik, karena sudah sangat sering saya bawakan dan selalu berhasil. Saatnya menguji kesaktiannya di Falling Walls Lab di Berlin. Selain itu, saya merasa harus ada sentuhan ‘out of the box’ mengingat peserta lainnya sudah sangat bagus. Nothing to lose, saya pikir.

Sementara orang-orang menikmati makan siang, saya menyelinap ke sebuah ruang toilet. Saatnya saya melatih sekali lagi apa yang sudah saya siapkan, terutama karena ada tambahan guyon ‘baru’ yang akan saya sajikan nanti. Saya masuk ruangan itu dan menguncinya dari dalam. Suasana hening sepi dan sangat cocok untuk berlatih. Meski demikian, tentu saja saya tidak bisa berlatih dengan suara keras karena itu akan menjadi aneh bagi pengguna toilet lainnya. Saya memulai dan semua berjalan baik. Saya berkonsentrasi pada pemilihan kata-kata sementara mata saya tidak bisa lepas dari timer yang berjalan terus. Rasanya sudah sangat baik, saya bisa berbicara lancar dan pemanfaatan waktu juga sangat baik. Sampai suatu titik, saya mendengar pintu kamar mandi dibuka dan konsentrasi saya buyar sebuyar-buyarnya. Latihan itu tidak berjalan baik tetapi setidaknya saya merasa cukup nyaman dengan bagian ketika harus menyampaikan guyon baru itu nanti. Saya bergegas keluar dari kamar mandi.

Sesi dua dimulai. Ketegangan meningkat ketika seorang petugas memasang wireless microphone pada kepala saya. Tiba-tiba saja dunia terasa bergerak lambat dan seratus orang lebih di ruangan itu mengirimkan energi yang sangat mengancam. Saya tidak bisa lagi menyimak pembicara sebelum saya karena saya sibuk dengan diri sendiri. Sesaat setelah microphone terpasang, saya kembali melakukan simulasi. Saya sudah tidak peduli bagaimana orang-orang di ruangan itu melihat saya yang komat kamit dan menggerak-gerakkan tangan di pinggir ruangan. Sementara itu pembicara sebelum saya tengah menyajikan kemampuan terbaiknya.

Sampai akhirnya saya mendengar “Breaking the Wall for Fishig Technological Injustice, I Made Andi Arsana, Universitas Gadjah Maada, INDONESIA” dan disambut tepuk tangan hadirin memberi semangat. Segala ketegangan memuncak tetapi mendadak seperti sirna begitu saya menginjakkan kaki di panggung. Mungkin tidak sirna tetapi saya sudah tidak bisa lagi membedakan antara tegang, panic, siap, atau tenang. Bercampur menjadi satu.

Reda tepuk tangan bergemuruh, saya melihat di layar monitor angka 3:00 pertanda tiga menit saya sudah dimulai. “The correct way to pronounce my name is I Made Andi Arsana (pelafalan Bahasa Indonesis) but some called me I Made Andi Arsana (English pronunciation)” ucap saya memulai presentasi. Persis seperti yang saya duga dan harapkan, hadirin pecah dengan tawa yang cukup riuh. Terima kasih Tuhan, intermezzo saya berhasil dan segala sesuatu menjadi jauh lebih ringan.

Ternyata latihan yang keras memang tidak menipu. Saya melakukannya lebih dari 200 kali dan hari itu nampak hasilnya. Saya marasa sangat tenang. Semua ucapan saya lancar dan smooth persis seperti yang saya latih. Saya menikmati presentasi itu, menikmati para juri yang menggut-manggut, menikmati juga peserta yang tersenyum atau tertawa kecil tanda setuju atau mengerti. Di situ saya mengumpulkan kepercayaan diri yang lebih besar dan energi itu mengantarkan saya pada satu kalimat pemungkas “thank you!”.

Beriringan dengan tepuk tangan hadirin pertanyaan mulai muncul. Yang saya siapkan hanya satu hal: jawab dengan singkat dan otoritatif. Maka itu yang saya lakukan. Entah itu benar entah tidak, itu perkara berikutnya. Empat atau lima pertanyaan dilayangkan dan saya jawab dengan baik sebelum waktu habis. Bagi saya, ini adalah proses yang menyenangkan. Saya presentasi dalam dua menit sehingga ada banyak tanya jawab yang bisa terjadi. Kepuasan saya pada titik yang mendekati seratus persen. Bagi saya, indikator kesuksesan presentasi itu sederhana. Jika berjalan sesuai dengan yang dilatih, berarti dia sukses. Soal juara atau tidak, memukau penonton atau tidak, itu perihal lain. Kalau ditanya sukses atau tidak, saya jawab dengan tegas: sukses.

Ketika melangkah ke bangku penonton, saya merasa jauh lebih rileks. Ada persaaan puas karena telah melakukan tugas dengan baik, bahkan sangat baik. Sekali lagi ini adalah baik menurut versi saja sendiri, bukan orang lain, bukan juga juri. Di meja penonton saya merasakan nuansa tenang dan santai yang berbeda. Begini ternyata rasanya telah menyelesaikan tugas dengan persiapan yang total. Rasanya lega. Maka saya menyimak puluhan presentasi lain dengan satu semangat: belajar. Tentu saja saya juga tetap berbagi di dunia maya karna saya tahu ada banyak orang yang menyimak acara ini dari akun media sosial saya.

Acara ditutup ketika gelap dan para juri diminta untuk menunaikan tugasnya menentukan juara pada hari itu. Saya yakin, tugas mereka sangat berat mengingat semua peserta tampil hebat dan memukau. Meraka hanya punya waktu satu jam untuk memberikan keputusan. Dengan guyonannya, MC mengusir mereka dari ruangan itu dan mengharapkan mereka kembali sejam kemudian. Hadirin tertawa melihat drama ringan itu dan kami punya waktu satu jam untuk bersenang-senang.

Sesi pemberian hadiah dibuka. Di titik itu, saya sudah sangat santai dan siap menerima apapun keputusannya. Maka dimulailah sambutan dari panitia dan ketua juri. Ketika itu berlangsung, tiba-tiba ada harapan atau pengharapan yang muncul lagi. Ternyata saya adalah peserta lomba biasa saja yang tetap akan merasa senang ketika mendapatkan juara. Tiba-tiba saja ada perasaan berharap agar nama saya disebutkan. Mungkin ini juga terjadi pada semua peserta lainnya. Maka keteganganganpun kembali menyelinap.

Dalam sekejap saya telah melihat empat orang peserta berdiri di panggung dan mereka adalah juara tahun ini. Mereka disebut sebagai Young Innovators of 2018. Tentu saja saya tidak ada di antara mereka. Saya masih duduk di kursi peserta karena tidak menjadi salah satu peraih penghargaan malam itu. Meski demikian, saya tenang luar biasa. Yang tersisa hanya rasa bangga karena menjadi bagian dari perhelatan keren ini dan kagum kepada para peraih juara. Yang juga sangat penting, saya sudah bisa menikmati video presentasi saya yang direkam secara online oleh seorang kawan di Taiwan. Melihat penampilan saya, rasanya hanya ada rasa syukur yang harus dimiliki. Memang saya tidak menjadi yang terbaik di ajang lomba bergengsi itu tetapi saya senang telah mempersembahkan yang terbaik yang saya mampu. Setidaknya, persis seperti ketika saya latih.

Meski ada perasaan tidak nyaman di awal, malam itu saya melupakan ketidaknyamanan itu dengan cepat. Kami melakukan ritual resepsi sebagai pertanda penutupan Falling Walls Lab, tidak jauh dari monumen ikonik Brandenburg di kota Berlin. Pertemuan dengan berbagai orang dan obrolan inspiratif dengan para innovator dunia itu dengan segera menghilangkan kegalauan saya. Yang tersisa hanya kebanggan karena telah menjadi bagian dari perhelatan penting itu dan rasa syukur karena telah melakukan yang terbaik yang saya bisa.

Beberapa saat kemudian kami sudah berada di sebuah restoran dan menghadiri jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNFF). Selain Katrin Bannach dari FNFF, hadir juga dalam jamuan makan malam itu, Christoph Rohde dari Westerwelle Foundation. Semua peserta dari ASEAN diundang dalam makan malam itu dan diskusi berlangsung seru terkait dengan kesempatan dan kerja sama di masa depan. Christoph secara khusus menceritakan peluang pendanaan bagi mereka yang memiliki startup terkait dengan inovasi. Malam itu ada banyak peluang yang terbuka dan berbagai kesempatan nampak jelas dan perlu ditindaklanjuti.

Tanggal 9 November 2018 merupakan saat yang tepat untuk bersenang-senang sambil menimba ilmu dari pembicara kelas dunia di acara Falling Walls Conference. Semua peserta Falling Walls Lab 2018 dipersilakan hadir di acara konferensi tersebut dan memilih sesi serta pembicara yang disukai. Jika tidak kebagian tempat duduk di ruangan, peserta bisa menyaksikan event tertentu dari layar yang dipasang di sekitar lokasi konferensi. Sebagian besar peserta FWL tertarik menyaksikan ilmuwan terkemuka berbicara bidang ilmu mereka di sebuah konferensi tingkat dunia. Jika diperhatikan, Falling Walls bisa dianggap TED versi Jerman. Isinya padat, penyampaiannya inspiratif.

Saya datang ke beberapa sesi dan menyimak dengan baik beberapa topik yang dibicarakan. Setiap sesi selalu dipenuhi dengan penonton dan tidak jarang jika ruangan penuh, saya memilih untuk melihat dari layar yang tersedia di luar ruangan. Kadang lebih enak karena di luar ruangan itu tersedia makanan dan minuman yang bisa dinikmati dengan percuma. Konferensi ini memang berbayar mahal sehingga fasilitasnyapun sangat bagus. Kami, para peserta FWL, memang beruntung karena tidak membayar satu peserpun untuk menikmati semua itu.

Sore tanggal 9 November saya menyempatkan diri untuk bertemu beberapa kawan baik yang tinggal di Berlin. Di antara mereka ada yang mantan mahasiswa saya, ada juga rekan professional, yang sudah saya kenal sejak lama. Sebgian dari mereka adalah diaspora Indonesia yang memiliki prestasi cemerlang dan sudah mendunia kiprahnya. Selalu menyenangkan melihat anak bangsa yang telah mendunia dan tetap mengingat persahabatan yang pernah terjalin.

Menjelang malam, saya bertemu dengan Duta Besar RI untuk Jerman, Duta Besar Arif Havas Oegroseno. Pak Havas, demikian saya memanggil beliau, sudah saya kenal sejak lebih dari 13 tahun lalu dan saya banyak belajar dari beliau. Meskipun kami kadang memiliki pandangan yang berbeda dalam beberapa hal, saya menghormati beliau sebagai diplomat yang luar biasa. Kini, saat beliau menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Jerman, saya merasa beruntung bisa menjumpai beliau langsung di kantornya.

Diskusi berlangsung sangat hangat dan akrab. Pak Havas, tetap seperti biasanya, selalu muncul dengan gagasan-gagasan ‘nakal’ yang cerdas tentang berbagai hal. Kami diskusi soal rencana peringatan Hari Nusantara 2018 yang jatuh pada tanggal 13 Desember 2018 mendatang dan bagaimana kami bisa bekerja sama untuk merayakannya. Pak Havas juga bercerita tentang kiprah beliau di Jerman selama beberapa bulan terakhir dan berbagai kesempatan serta peran yang sudah dan akan beliau jalankan. Nampaknya keberadaan beliau di Jerman mendapat sambutan yang positif, tidak saja dari pemerintah tetapi juga dunia usaha, industri dan akademik. Ketika kami diskusi, Pak Havas sedang menyiapkan pidato wisuda untuk sebuah kampus di luar kota. Ini menegaskan penerimaan atas keberadaan beliau di negeri ini.

Ketika malam telah gelap dan kian dingin saya berbegas kembali ke motel untuk berkemas-kemas. Besoknya, tanggal 10 November 2018, saya akan terbang menuju Wina lalu naik bus ke Bratislava. Tujuan utama saya adalah titik perbatasan antara Slovakia, Austria dan Hongaria. Sudah lama sekali saya ingin mengunjungi titik perbatasan itu dan kini adalah saat yang tepat mumpung saya ada di belahan bumi yang tidak terlalu jauh dari lokasi perbatasan tersebut. FWL adalah tentang meruntuhkan tembok dan batas maka tembok pertama yang hendak saya runtuhkan adalah tembok keraguan dan ketakuan untuk melakukan hal dan mengunjugi tempat baru. Lirih saya berucap, selamat bertualang.

Penulis: Dr. I Made Andi Arsana, pemenang Falling Walls Lab Jakarta 2018.