Mengundang Anda untuk hadir dalam acara pertunjukan musik, scenic reading & tari dalam bahasa Indonesia dan Jerman yang berjudul:

Duft der Asche / BAU ABU
Stimmen Indonesischer Frauen / Suara Perempuan Indonesia

Jumat, 9 Maret 2018 jam 19.00 wib
Ruang Aula, Kedai Kebun Forum

Jl. Tirtodipuran 3, Yogyakarta
Terbuka untuk umum & gratis

Dramaturgi oleh: Michaela Nocker (UNY) & Silvia Purba (ISI Yogyakarta)

Penampil: Dwi Widarti, Merry Sajuto, Dyah Novi Astutik, Shinta Mardika Utami, Pitaloka Sinta, Sri Astriyani, Sri Hartanti, Vita Zarah Safriti, Riadlatul Aeni, Azzahra Ainun Ghifari

Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Women’s Day International atas kerjasama DAAD dan Kedai Kebun Forum.

Pengantar

“BAU ABU” merupakan pembacaan karya sastra secara indah yang ditulis oleh para wanita muda Indonesia. Untuk memperingati Hari Perempuan Internasional, karya sastra tersebut akan dibacakan oleh para mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta dan pemeran dari Jurusan Teater, ISI Yogyakarta. Karya sastra ini dibacakan dalam dua bahasa, Jerman dan Indonesia, dengan topik yang masih tabu dibicarakan sampai saat ini di masyarakat Indonesia. Penampilan mereka akan diiringi alunan musik jazz akustik dan tarian liris oleh Dwi Widarti. Karya-karya sastra berupa cerita pendek dan puisi yang dibacakan adalah karya dari Linda Christanty, Dorothea Rosa Herliany, Stefani Hid, Djenar Maesa Ayu, Sirikit Syah.

Layaknya burung phoenix  yang lahir dari abu…
Bukan suatu kebetulan bahwa wanita semakin dihormati dalam kompetisi sastra.  Sejak jatuhnya era Soeharto, para sastrawati kemudian banyak mengetengahkan masalah sosial yang dianggap tabu secara terbuka dan bebas di tengah masyarakat. Topik-topik yang diangkat berkisar masalah konflik politik, poligami, hingga kekerasan seksual: literatur mencerminkan apa yang sedang terjadi dalam masyarakat Indonesia saat ini. Cerita pendek yang dipilih menawarkan isi dan gaya yang terbuka, menceritakan tema yang sekuler dan religius, serta kehidupan sosial di lingkungan perkotaan dan pedesaan.

Dalam diskusi publik di akhir pembacaan teks akan dibahas tentang definisi dan interpretasi peran gender yang berbeda, juga kontribusi pada perbedaan antara kekuatan liberal dan konservatif. Pertama berbicara tentang komitmen untuk kesetaraan gender, sedangkan yang kedua menganjurkan moralitas seksual yang lebih ketat dan menuntut. Diskusi publik mengenai definisi dan interpretasi peran gender yang berbeda juga berkontribusi pada pengerasan front antara kekuatan liberal dan konservatif. Yang pertama semakin berkomitmen untuk kesetaraan jender, sementara yang terakhir menganjurkan moralitas seksual yang lebih ketat dan menuntut perubahan peran perempuan di masyarakat. Topik tersebut dan topik lainnya akan ada dalam pembacaan untuk turut di bahas.

Info lebih lanjut hubungi 085725809139 (Uniph)